Dipecat Real Madrid, Mau ke Mana Xabi Alonso? Jodoh ke Manchester United?

Xabi Alonso
0 0
Read Time:4 Minute, 13 Second

Ekspektasi besar yang dibebankan di pundak Xabi Alonso saat kembali ke Real Madrid pada musim panas lalu runtuh jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Niat untuk mengembalikan kejayaan Los Blancos justru berujung pahit, ketika Alonso harus angkat kaki dari Santiago Bernabeu hanya dalam waktu delapan bulan.

Kekalahan menyakitkan dari Barcelona di final Supercopa de España menjadi titik akhir rezim singkatnya. Namun, hasil tersebut sejatinya hanya puncak gunung es dari serangkaian masalah yang telah lama mengendap di balik layar. Hubungan yang tidak harmonis dengan manajemen, gesekan di ruang ganti, serta kegagalan membangun identitas permainan membuat posisi Alonso kian terjepit.

Kini, setelah pintu Bernabeu tertutup, pertanyaan besar pun muncul: ke mana langkah Xabi Alonso selanjutnya? Premier League, dengan Manchester United sebagai kandidat terkuat, disebut-sebut bisa menjadi pelabuhan berikutnya.


Neraka Bernabeu dan Pemberontakan Ruang Ganti

Kepergian Alonso dari Real Madrid bukan semata akibat satu hasil buruk. Dalam klub sebesar Madrid, kekalahan di El Clasico memang sulit diterima, tetapi sejarah menunjukkan bahwa satu pertandingan jarang menjadi satu-satunya alasan pemecatan.

Masalah Alonso jauh lebih kompleks. Ia mencoba menerapkan pendekatan taktik yang fleksibel dan berubah-ubah, namun alih-alih menciptakan kejutan, perubahan tersebut justru membuat tim kehilangan identitas. Para pemain terlihat kebingungan, sementara konsistensi permainan sulit ditemukan.

Di ruang ganti, gaya kepemimpinan Alonso menjadi sorotan. Metode latihannya yang keras, disiplin tinggi, dan tuntutan intensitas tanpa kompromi dinilai tidak sepenuhnya cocok dengan karakter para megabintang Madrid. Beberapa pemain senior dikabarkan merasa pendekatan tersebut terlalu kaku dan minim dialog personal.

Di sisi lain, Alonso juga gagal memenuhi ekspektasi manajemen yang menginginkan figur pelatih dengan “wajah korporat”: mampu meredam konflik, menjaga stabilitas citra klub, dan mengelola ego para bintang. Politik internal Bernabeu kembali menunjukkan taringnya, dan Alonso menjadi korban berikutnya.

Ironisnya, kegagalan ini kontras dengan reputasinya di Jerman. Bersama Bayer Leverkusen, Alonso sukses mencatat sejarah dengan membawa klub tersebut menjuarai Bundesliga, tampil dominan, atraktif, dan penuh karakter. Rekam jejak itu membuat banyak pihak percaya bahwa masalahnya bukan soal kapasitas, melainkan konteks klub yang tidak cocok.


Old Trafford Memanggil: Jodoh yang Tertunda?

Waktu pemecatan Alonso terbilang menarik. Kabar tersebut berhembus hampir bersamaan dengan situasi darurat di Manchester United. Setan Merah baru saja berpisah dengan Ruben Amorim pada awal bulan ini, meninggalkan kekosongan besar di kursi manajer.

Hingga kini, Manchester United belum mengamankan pelatih interim definitif. Nama-nama seperti Michael Carrick dan Ole Gunnar Solskjaer hanya dipertimbangkan sebagai solusi jangka pendek. Untuk proyek jangka panjang, manajemen diyakini mengincar sosok yang punya visi jelas dan rekam jejak membangun tim dari nol.

Di sinilah nama Xabi Alonso menjadi sangat relevan. Berbeda dengan Madrid, United bisa menawarkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia dapatkan di Spanyol: kekuasaan penuh untuk membangun sistem, memilih pemain, dan membentuk budaya tim sesuai visinya.

Pengalaman Alonso membangun Leverkusen dengan kontrol total menjadi bukti bahwa ia berkembang pesat ketika diberi kepercayaan. Premier League yang menuntut intensitas tinggi juga selaras dengan filosofi sepak bolanya. Tak heran jika banyak analis menyebut potensi Alonso ke Old Trafford sebagai “match made in heaven”.

Namun, tantangannya tetap besar. Tekanan media Inggris, ekspektasi suporter, serta kondisi skuad United yang belum stabil akan menjadi ujian nyata bagi Alonso jika ia menerima tantangan tersebut.


Liverpool dan Tottenham: Dua Opsi yang Tak Sederhana

Selain Manchester United, Liverpool sempat kembali dikaitkan dengan Alonso. Ia pernah menjadi kandidat kuat pengganti Jurgen Klopp, tetapi manajemen The Reds akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Arne Slot.

Kini, meski Slot sempat mengalami periode sulit di awal musim, performa Liverpool perlahan membaik. Stabilitas yang mulai terbangun membuat peluang Alonso kembali ke Anfield terlihat kecil, kecuali terjadi keputusan ekstrem dari manajemen.

Sementara itu, peluang justru muncul dari London Utara. Tottenham Hotspur tengah menjalani musim yang mengecewakan di bawah Thomas Frank. Spurs terpuruk di peringkat 14 Premier League dan hanya berada di posisi 11 klasemen Liga Champions.

Jika tren negatif ini berlanjut, manajemen Tottenham bisa saja mengambil langkah berani dengan mengganti pelatih di musim panas. Alonso, dengan reputasi sebagai pelatih progresif dan karismatik, berpotensi menjadi pilihan menarik. Meski demikian, langkah ini membutuhkan keberanian besar, mengingat Spurs dikenal sering terjebak dalam siklus pergantian manajer tanpa fondasi jangka panjang.


Bayern Tertutup, Menunggu Pep di Manchester City?

Opsi kembali ke Jerman untuk menangani Bayern Munchen hampir mustahil saat ini. Vincent Kompany tengah menikmati musim yang impresif bersama Die Roten. Bayern unggul jauh di puncak Bundesliga dan tampil solid di Liga Champions, membuat posisi Kompany nyaris tak tersentuh.

Satu-satunya skenario elite lain adalah Manchester City. Alonso dinilai memiliki kapasitas intelektual dan taktik untuk menjadi suksesor Pep Guardiola. Namun, peluang ini sepenuhnya bergantung pada keputusan Guardiola sendiri. Selama Pep masih bertahan di Etihad, pintu tersebut praktis tertutup.


Menepi Sejenak, Menunggu Proyek yang Tepat

Untuk saat ini, opsi paling realistis bagi Xabi Alonso adalah menepi sejenak hingga musim panas. Waktu ini bisa ia gunakan untuk mengevaluasi tawaran, memulihkan reputasi, dan menunggu klub yang benar-benar siap memberinya kendali penuh.

Satu hal yang pasti, kegagalan di Real Madrid tidak serta-merta menghapus reputasinya sebagai salah satu pelatih paling menjanjikan di Eropa. Jika menemukan klub yang tepat, Alonso masih punya peluang besar untuk membuktikan bahwa kisah pahit di Bernabeu hanyalah sebuah anomali, bukan cerminan kualitas sejatinya.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %