Krisis Liverpool Parah: Statistik Mengungkap Laju Terburuk dalam 70 Tahun
Krisis Liverpool Parah, Liverpool tengah berada dalam salah satu periode paling kelam dalam sejarah modern klub. Kekalahan telak 1-4 dari PSV Eindhoven bukan hanya pukulan telak secara mental, tetapi juga membuka sorotan lebih besar terhadap turunnya performa tim yang semakin parah dari pekan ke pekan. Setelah memulai musim sebagai juara bertahan dan tampil begitu meyakinkan di awal, kini Liverpool justru terseok-seok dan merosot jauh dari persaingan papan atas.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan suporter maupun analis sepak bola. Statistik menunjukkan bahwa laju buruk ini bahkan menjadi yang terburuk dalam 70 tahun terakhir—sebuah peringatan serius bahwa Liverpool sedang berada di titik kritis yang tidak boleh diabaikan.
Penurunan Drastis dalam Performa Liga
Liverpool sebenarnya tampil sangat meyakinkan di awal musim. Mereka membuka Premier League dengan lima kemenangan beruntun, disertai tujuh kemenangan di semua kompetisi. Kombinasi kedalaman skuad, intensitas permainan, serta efektivitas lini serang membuat banyak pihak melihat The Reds sebagai kandidat kuat juara lagi.
Namun, semuanya berubah setelah kekalahan 1-2 dari Crystal Palace pada 27 September. Pertandingan tersebut menjadi titik balik yang memicu penurunan performa drastis. Sejak saat itu, Liverpool tampak kehilangan identitas permainan yang selama ini menjadi ciri khas mereka: pressing agresif, transisi cepat, dan keberanian dalam duel satu lawan satu.
Dalam periode setelah kekalahan dari Crystal Palace, Liverpool mencatat sembilan kekalahan dan hanya tiga kemenangan dari 12 pertandingan semua kompetisi. Fakta lebih mengejutkan: di Premier League, mereka kalah enam kali dari tujuh laga liga terakhir. Dari posisi pemuncak klasemen, Liverpool jatuh hingga rangking ke-12—penurunan tajam yang sangat jarang terjadi bagi tim dengan level kompetisi dan ambisi sebesar mereka.
Liverpool juga menjadi juara bertahan pertama sejak Leicester City pada musim 2016/17 yang kalah enam kali dari 12 laga awal liga. Statistik tersebut semakin memperkuat gambaran betapa cepatnya performa Liverpool merosot hanya dalam hitungan pekan.
Eropa Tak Lagi Jadi Pelipur Lara
Selama beberapa musim terakhir, kompetisi Eropa sering menjadi tempat Liverpool menunjukkan kualitas terbaik meskipun performa domestik tidak stabil. Namun, musim ini cerita berbeda. Liga Champions tidak mampu menjadi pelarian yang memberikan harapan.
Liverpool sempat meraih kemenangan meyakinkan atas Eintracht Frankfurt dan Real Madrid, memberikan sedikit sinyal bahwa mereka mungkin bisa bangkit. Namun kekalahan terbaru dari PSV Eindhoven dengan skor 1-4 mematahkan kepercayaan diri tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kekalahan itu merupakan kekalahan ketiga beruntun dengan selisih tiga gol atau lebih. Sebelumnya, mereka dihantam Manchester City dengan skor 0-3 dan takluk 0-3 dari Nottingham Forest. Ini adalah tren negatif yang sangat jarang dialami Liverpool di era sepak bola modern.
Dengan total sembilan kekalahan dalam 12 pertandingan, Liverpool mencatatkan tren serupa dengan krisis besar yang pernah terjadi pada musim 1953-54. Melihat bagaimana sejarah itu berakhir, tentu ini menjadi alarm keras bagi manajemen dan staf pelatih.
Mengulang Sejarah Pahit Era 1950-an
Paralel antara performa Liverpool musim ini dan musim 1953-54 semakin sering dibahas oleh para pengamat. Pada era tersebut, Liverpool mengalami rangkaian hasil sangat buruk. Mereka kalah 1-5 dari Portsmouth, 1-5 dari Manchester United, dan 2-5 dari West Brom pada hari Natal. Semua kekalahan itu terjadi dalam rentang yang berdekatan dan menjadi bagian dari sembilan kekalahan dalam 11 pertandingan.
Satu-satunya jeda dari kekalahan beruntun itu hanyalah kemenangan tipis atas Blackpool dan hasil imbang melawan West Brom. Hal yang lebih buruk lagi, setelah kemenangan atas Blackpool, tim asuhan Don Welsh ketika itu gagal menang dalam 15 laga beruntun hingga Maret. Musim kelam itu akhirnya berujung pada degradasi ke Divisi Dua.
Meski performa Liverpool saat ini belum menyentuh titik separah era 1950-an, namun perbandingan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Performa buruk yang terjadi dalam waktu singkat ini sangat tidak mencerminkan kualitas skuad dan status sebagai juara bertahan.
Perbedaan pentingnya adalah bahwa pada musim 1953-54, Liverpool sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan dari musim sebelumnya dengan finis di posisi ke-17. Sementara musim ini, Liverpool justru datang sebagai juara bertahan, menjadikan kemerosotan ini jauh lebih mengejutkan dan dramatis.
Apa yang Salah dengan Liverpool?
Penurunan Liverpool tidak bisa dijelaskan oleh satu faktor saja, melainkan kombinasi dari berbagai aspek:
1. Cedera dan Kebugaran Pemain
Beberapa pilar mengalami masalah kebugaran yang membuat ritme permainan tim terganggu.
2. Masalah Taktis
Intensitas pressing menurun, struktur bertahan melemah, dan kreativitas serangan menurun drastis.
3. Krisis Kepercayaan Diri
Tiga kekalahan besar beruntun menunjukkan mental tim sedang terpuruk.
4. Ketergantungan Pemain Kunci
Ketika beberapa pemain inti tampil buruk atau absen, kedalaman skuad tidak mampu mengimbangi.
Penutup
Krisis Liverpool Parah, Liverpool saat ini berada pada persimpangan penting. Statistik memperlihatkan bahwa mereka sedang menjalani periode terburuk dalam 70 tahun terakhir, dan perbandingan dengan era 1950-an pun tak terhindarkan. Namun berbeda dengan masa lalu, kini Liverpool memiliki sumber daya, pengalaman, dan kualitas manajerial yang jauh lebih baik untuk keluar dari krisis.
Pertanyaannya: apakah mereka mampu bangkit dengan cepat dan menghentikan tren negatif ini? Atau justru makin terpuruk dan mencatat sejarah kelam baru?